Tuhan Ada (?)

Standar

Alkisah…

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, pendeta atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.

Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.
Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Pendeta : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda
Pemuda : Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Pendeta : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya
Pemuda : Saya punya 3 buah pertanyaan

  1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
  2. Apakah yang dinamakan takdir
  3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakit kan buat setan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Read the rest of this entry

“Pikulah, dan Jangan Engkau Kurangi”

Standar

“CERITA LAMA BERSEMI KEMBALI”

Ada 3 orang; A, B ,dan C diberi tugas oleh Tuhan untuk memikul salib yang sama besar dan sangat berat menuju puncak sebuah bukit.Di sana Tuhan berjanji akan menjemput mereka ke Surga. Di tengah jalan ketiga orang itu melihat sebuah gergaji, si B mulai berpikir dan menghasut kedua temannya untuk memotong salib mereka supaya salib itu menjadi ringan. Namun kedua temannya tidak menuruti usul si B karena mereka taat dan mengasihi Tuhan.

salibKasih mereka kepada Tuhan membuat mereka mau dan rela memikul tanggung jawab yang Tuhan sudah berikan tanpa keluhan. Singkat cerita si B memotong salibnya  sehingga dengan mudah ia mendahului kedua temannya. Sampai dipuncak bukit, si B melihat sebuah jurang yang teramat lebar memisahkan puncak bukit itu dengan gerbang Surga. Di seberang jurang terlihat malaikat Tuhan yang sudah menanti kedatangan mereka. Dengan bersemangat si B menanyakan jalan mana yang bisa dipakainya untuk sampai ke gerbang Surga, tapi malaikat Tuhan itu men Read the rest of this entry

Nama Baptis + Nama Krisma (?)

Standar

Nama Babtis

Beberapa alasan yang lazim orangtua menggunakan nama baptis untuk anaknya adalah berdasarkan tanggal/bulan kelahiran atau pembaptisan. Misalnya, nama Agustinus dipilih karena lahir atau dibaptis pada Agustus. Dapat juga memilih nama Natalia, karena dibaptis pada hari Natal atau sekitarnya. Yang terbaik adalah memilih nama seperti yang telah saya sampaikan di atas, yaitu berdasarkan semangat, spiritualitas, atau perjuangan orang kudus itu.

permandianSpiritualitas dari santo-santa yang dipilih dapat menjadi pengingat dan penyemangat bagi orang yang memakai namanya. Misalnya nama Maria, karena ingin menjadi orang beriman sempurna dan setia. Dapat juga memilih nama Fransiskus Asisi karena terpikat pada semangat murah hati dan pelayanannya.

Untuk memilih Nama baptis dapat dipakai beberapa cara sebagai berikut :
  • Berdasarkan tanggal/bulan kelahiran atau tanggal pembaptisan dilaksanakan. Misalnya untuk yang lahir dibulan Agustus dapat memilih Agustinus, atau yang dibaptis bulan Desember menjelang hari raya Natal mempergunakan nama baptis Natalia.
  • Dipilih nama orang kudus sebagai pelindung profesi calon bersangkutan atau nama orang kudus yang berprofesi sama dengan calon yang bersangkutan. Misalnya untuk yang bekerja atau memiliki usaha perkayuan, meubel, furnitur dapat mempergunakan nama baptis Yosep / Yusuf (ayah duniawi Yesus, seorang tukang kayu)
  • Dipilih nama orang kudus yang semangat, spiritualitas dan karyanya menjadi inspirasi dan sumber semangat calon baptis yang bersangkutan. Misalnya bila yang memiliki spiritualitas hidup sederhana yang mendalam dapat memilih nama St. Theresia Lisieux, atau yang punya semangat sosial untuk berbagi kepada sesama dapat memilih nama St. Fransiskus Asisi

Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) kanon 855 dituliskan, “Orangtua, walibaptis, dan pastor paroki hendaknya menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari napas kristiani.” Berdasarkan kanon ini, maka aturan pemakaian nama baptis adalah untuk memberikan makna kristiani, bukan aturan lain. Dalam bahasa Inggris, nama ini disebut Christian Name (Nama Kristiani).

Ada kebebasan dalam memilih nama baptis, tetapi tetap diusahakan adanya kesesuaian makna kristiani. Dalam buku Puji Syukur, dapat ditemui nama-nama santo-santa yang bisa dipakai, demikian juga pada situs-situs resmi Gereja-Gereja paroki atau Gereja Katolik. Sebelum memilih, pastikan bahwa nama dan artinya Anda kehendaki dan baik, bukan karena keren, kebarat-baratan, atau unik saja.

Pertanyaan : Mengapa saat menerima Sakramen Krisma, kita diminta untuk memilih lagi nama Krisma dari santo-santa? Mengapa tidak memakai nama santo-santa yang sudah menjadi nama kita saja?

Nama Krisma

Sakramen Krisma memiliki dasar Kitab Suci dari Kis 8:16-17 “Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.”  dan dari Kis 19:5-6 “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat”. dari kedua kutipan ini jelas bahwa Sakramen Krisma membutuhkan penumpangan tangan untuk mengundang Roh Kudus.

krismaDidalam sakramen Krisma, kita menerima “Kepenuhan Roh Kudus” sehingga kita dapat secara penuh dan aktif berkarya dalam Gereja. bandingkan dengan para rasul yang menerima Roh Kudus saat Pantekosta, sebelum peristiwa Pantekosta mereka sudah menerima Roh Kudus tetapi mereka baru ‘aktif’ sesudah Pantekosta. Demikian juga  halnya dengan kita karena sebenarnya Roh Kuduspun sudah kita terima saat Permandian, yaitu Roh yang menjadikan kita Anak-Anak Allah, dan yang membersihkan kita dari Dosa Asal (lebih Jelasnya lihat tentang Sakramen Babtis). Itulah disebutkan bahwa Sakramen Babtis adalah Sakramen Paska dan Sakramen Krisma adalah Sakramen Pantekosta.

Pemilihan nama Krisma sebenarnya kita tidak memiliki keharusan untuk menambah nama itu pada nama baptis yang telahkita terima. Kita dapat menggunakan nama baptis untuk penerimaan sakramen ini. Akan tetapi, tetap diberi kebebasan kepada calon penerima Krisma untuk menambah nama guna menambah makna Sakramen Krisma yang diterimanya.
Adapun Prinsip pemilihan nama Krisma sama dengan pemilihan nama baptis dalam rangka maknanya. Tetapi, dalam hal ini nama Baptis memiliki nilai keharusan lebih, karena urutan sakramen inisiasi dimulai dari sakramen ini. Kalau nama baptis sudah dipilih, di kemudian hari jika tidak memilih nama tambahan baru untuk krisma, tidak apa-apa.

Saran Memilih Nama Baptis/Krisma

Jika hendak memilih nama baptis/krisma hendaknya pastikan bahwa nama itu memang benar-benar ada dan menjadi nama kristiani. Tidak semua nama dari Barat adalah nama baptis/kristiani. Pilihlah nama yang sesuai dengan apa yang telah direnungkan dan terbaik untuk anak, Atau meminta bantuan usulan nama orang kudus baptis dan mencari tahu tentang orang kudus yang akan digunakan sebagai nama babtis atau nama krisma.
Refrensi : imankatolik, hidupkatolik, indocell

Menjadi Guru

Standar

guru“Dunia pendidikan kita kian amburadul ” demikian  kata  seorang  temanku,  saat  kami sedang berkumpul dan melakukan diskusi tanpa arti di suatu sore sambil memandang laut lepas di  sebuah  cafe  di  tepi pantai Losari. Mereka sedang membicarakan pendidikan anak-anak mereka. “Dan mutu-mutu guru pun kian buruk”  Aku  memandang kepadanya  sambil menggeleng. Dia seorang ayah dan seorang teman yang aku tahu sangat cerdas. Dulu kami pernah kuliah  bersama,  dan aku selalu menyenangi caranya menjelaskan  masalah-masalah yang aku tidak pahami. Sore hari itu, kami berkumpul bersama, mengadakan sebuah reuni  kecil, karena  kehadiran seorang teman   kuliah   juga, yang  baru  tiba  dari  Sorong, Papua.

Dia pun bercerita tentang soal-soal pendidikan anak-anaknya sambil asyik mengunyah “pisang epe” yang kami nikmati bersama dibawah udara sore yangcerah. Aku memandang kepadanya yang terus bertutur tentang kekecewaannya tentang dunia pendidikan negeri  ini. Setelah dia selesai mengeluh, aku lalu bertanya, “jika kau mengeluh tentang dunia pendidikan  kita,  tentang  sikap moral para guru, lalu mengapa kau sendiri tidak mau menjadi seorang pendidik? Aku tahu kau mampu untuk itu. Bahkan lebih dari mampu, bila kau mau  ” Dia terd Read the rest of this entry

Kebebasan Hidup, Takdir Atau Rencana ALLAH

Standar

KEBEBASAN

kebebasanFree will (kehendak bebas) adalah konsep yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan dalam menentukan tingkah laku mereka sendiri. Ada pandangan yang menjadi penengah, yang beranggapan bahwa masa lalu memiliki peran penting dalam tindakan, namun bukan menentukan. Pilihan-pilihan manusia adalah hasil dari banyak kemungkinan yang semuanya dipengaruhi, tidak ditentukan oleh masa lalu. Ketika seseorang dapat memilih dari segala kemungkinan yang ada, orang tersebut tidak dapat memilih pilihan yang tidak ada di dalam pikirannya. Pilihan-pilihan manusia saat ini membatasi pilihannya di masa depan.

Filsuf Friedrich Schiller dan Rudolf Steiner berpendapat bahwa kehendak manusia pada awalnya tidak bebas. Manusia dapat bertindak secara rasional sepenuhnya dengan menaati dasar-dasar religius, etis dan prinsip-prinsip moral, di pihak lain, manusia juga dapat bertindak mengikuti dorongan-dorongan yang merupakan keinginan kedagingan dari dalam dirinya. Kehendak bebas bukanlah merupakan keadaan alamiah tetapi diperoleh melalui kegiatan refleksi diri dan juga keseimbangan antara tindakan rasional dan dorongan-dorongan di dalam dirinya.

TAKDIR ATAU RENCANA ALLAH

Takdir adalah kejadian atau jalan yang tidak dapat dihindari, bisa juga diartikan sebagai kekuatan yang tidak dapat dikendalikan yang menentukan masa depan secara umum maupun pribadi. Takdir merupakan sebuah konsep yang mempercayai bahwa ada aturan tetap yang natural di alam semesta.

Dalam Kekristenan pada umumnya, tidak mengenal konsep takdir. Read the rest of this entry

TAHTA SUCI – TAHTA ST. PETRUS

Standar

tahta1Istilah Tahta Suci berasal dari bahasa Latin Sancta Sedes, artinya “Kursi Suci,” bermula dari upacara penobatan Uskup Roma,  yaitu Paus.  Tepatnya, Cathedra,   yang   berarti   kursi   atau tahta, melambangkan kedudukan dan  wewenang Bapa  Suci  atau  seorang  uskup, dan tempat di mana ia tinggal dalam  wilayah  yang  termasuk wewenangnya. Di sini, Tahta  Suci menunjuk pada “kursi pemerintahan” Gereja  universal.  Secara  geografis, kursi   pemerintahan   ini   berada  di Keuskupan Roma. Dalam istilah pemerintahan yang sesungguhnya, Tahta Suci secara spesifik menunjuk pada  kedudukan Bapa  Suci, yang “berdasarkan   tugasnya,   yakni   sebagai   Wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa  penuh,  tertinggi  dan  universal  terhadap Gereja; dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas” (Konstitusi   Dogmatis   tentang Gereja, #22),  dan  diperluas  hingga  ke  Kuria Romawi, yang terdiri dari Sekretariat Negara atau Kepausan,   Dewan   Urusan   Umum   Gereja, Kongregasi-kongregasi,   Pengadilan-pengadilan, dan Lembaga-lembaga  lainnya (Kitab  Hukum Kanonik, #360).

Istilah  “Tahta Suci” juga disamaartikan dengan istilah “Tahta  Apostolik”.  Kitab  Hukum  Kanonik mendefinisikannya  sebagai   berikut : “Dengan nama Tahta Apostolik atau Tahta Suci dalam Kitab Hukum   ini   dimaksudkan   bukan   hanya  Paus, melainkan juga Sekretariat Negara, Dewan Urusan Umum   Gereja,   Lembaga-lembaga   lain   Kuria Romawi, kecuali jika dari hakikat perkara atau konteks   pembicaraannya   ternyata   lain” (Kitab Hukum Kanonik, #361). Istilah “tahta Read the rest of this entry

AKU ORANG KRISTEN – PENGIKUT KRISTUS (?)

Standar

murid-sejati

Aku Pengikut Kristus
Aku pergi ikut Misa, tapi menghayatinya tidak.
Aku mendengar pewartaan Sabda, tapi mendengarkanNya tidak.
Aku menerima Hosti Kudus, tapi menerima Yesus tidak.
Tetapi aku tetap  Pengikut Kristus, karena orang tuaku telah membabtiskan aku.

Aku  Pengikut Kristus
Aku mengucapkan “Aku Percaya”, tapi berserah aku tak pernah.
Aku pergi mengaku dosa, tapi dosaku tak kunjung purna.
Aku ucapkan doa, tapi berdoa aku tak tahu.
Namun aku tetap Pengikut Kristus, karena aku penuhi kewajiban itu.

Aku  Pengikut Kristus
Aku menutup tubuhku dengan pakaian, tapi menghormati tubuh aku tidak.
Aku bergerak aktif, tapi gerak Roh Kudus aku tak peduli.
Aku bermain dengan teman, tetapi tumbuh bersama tidak.
Aku mengaku sebagai Pengikut Kristus, karena temanku mengatakan begitu.

Aku  Pengikut Kristus
Aku ikut tradisi, tapi mengerti artinya tidak.
Aku ikuti ritualnya, tapi menghayatinya tidak.
Aku kasihan pada  orang lapar, tapi memberinya makan tidak.
Toh aku masih Pengikut Kristus, sempurna penampilanku sebagai  PengikutNya!

Aku  Pengikut Kristus
Aku melakukan Jalan Salib, tapi mengikuti SalibNya aku tidak.
Aku cium SalibNya pada Jumat Suci, tapi mencium salibku tiap hari tidak.
Aku kasihan pada Yang Tersalib, tapi pada yang tertindas aku tak peduli.
 Aku tetap Pengikut Kristus, Karena kebiasaanku menunjukkan itu.

DOA :
Ya Tuhan . . .
Jadikanlah aku muridMu yang sejati,
Menjadi pengikutMu dengan kesungguhan iman,
    dan bukan dengan kenyamanan.

(St. Andrew Firgojechim Lharam, Vasco, April 2006)